From : Bianca
Namanu selalu ada disetiap fikiranku
Cahayamu selalu menerangi kegelapan
Keindahanmu yang membuat aku terpanah
Dibalik gelas kaca itu terdapat dua berlian yang tampak
selalu bersinar
Air berlian itu tampak seperti butir-butir kristal yang
bertaburan
Saat kebahagiaan itu menggoreskan senyuman indah dibibirmu
Membuat aku terpana dengan pesonamu....
Your
Secret Admirer, XC.
Itulah
sekiranya yang selalu Bianca terima setiap harinya, puisi-puisi yang ditulis oleh
orang yang sama namun tidak pernah ia ketahui. Wanita itu baru saja
menyelesaikan sekolahnya dan melanjutkan ke universitas. Bianca selalu tampak
berseri-seri di setiap waktu. Wanita itu selalu terlihat anggun, dengan bola
mata bulat berwarna hitam, rambut pirang yang selalu dia biarkan terurai, kulit
hitam manis, dan lesung pipit di kedua pipi cuby miliknya, membuat dia terlihat
sangat manis.
Sore
ini di universitasnya sedang diadakan pertandingan basket, Bianca bersama
sahabatnya tengah terduduk di bawah rimbunnya pohon-pohon dekat lapangan tempat
berlatih basket. Tatapan sendunya itu tidak berhenti memperhatikan salah satu
pria yang sudah lama ia cintai. Pria itu tampak sangat bahagia menanti
pertandingan itu tapi entah pria itu bahagia karna kekasihnya menemaninya
bersiap untuk pertandingan basket sore ini. “Bi, lo liatin siapa sih? Si kapten
basket ya?”, ucap sahabatnya.
Bianca
hanya bisa terdiam membisu tanpa kata-kata. Dia terlihat sangat bersedih, tanpa
gairah. “Bukan, gue ga liatin dia, gue ada kelas”, jawab Bianca sambil pergi
meninggalkan sahabatnya. Dia berucap dalam hati, “Ya tuhan, apa harus sesakit
ini mencintainya? Berapa lama lagi aku harus menanti sebuah penantian yang
tidak pernah usai ini?”, Wanita itu tampak mengeluarkan kristal-kristal indah
dari bola matanya, dia menangis.
Ia
berjalan dengan langkah perlahan, meninggalkan sahabatnya sendirian, Bianca
yang tidak tahan lagi menahan butiran air yang sudah menjejali matanya itu
untuk segera berlomba-lomba keluar dari bola matanya dan ingin segera membasahi
wajah cantiknya. Dia berlari dan terus berlari tanpa arah, berusaha mencari
tempat yang cukup sunyi, hingga dia terjatuh. Kristal-kristal bening itu tak
bisa lagi ia tahan, mereka bergerombol jatuh dari bola mata wanita itu beriringan
dengan isak tangisnya. Terlihat bagaimana rapuhnya dia dan bagaimana rasa
sakitnya menahan perasaannya pada seorang pria yang sudah lama sekali ia
cintai. Dia menjerit dalam hatinya, “Ya tuhan, mengapa harus aku yang
menantinya? Mengapa dia tidak pernah melihat besarnya perasaanku padanya? Apa
aku tidak pantas untuk pria itu?”.
Keesokan
harinya, saat Bianca membuka lokernya di kampus, tampak surat berwana merah
jambu. Namun, tidak tertulis nama pengirimnya.
From : Bianca
Saat aku menatap kepergianmu, kau tampak berbeda
Mengapa kau membiarkan kristal-kristal itu terjatuh?
Saat itu kau tampak bersedih,
Berapa banyak air mata yang sudah kau jatuhkan?
Bila aku mampu, aku akan menggantinya.
Berapa jauh kau berlari mencari tempat sunyi?
Janganlah kau membuang tenagamu,
Datanglah pada hatiku, disana terdapat tempat yang sangat
sunyi untukmu,
Tempat yang sangat indah,
Aku akan menunggumu.
Your
Secret Admirer, XC.
Begitulah
isi surat merah jambu itu, surat itu adalah surat ke sembilan puluh sembilan
yang diberikan oleh pengirim tidak bernama iu. Bianca mengerang prustasi, “Ini
surat ke sembilan puluh sembilan!”, ucapnya jengkel.
Dia
berjalan dengan langkah terburu-buru di koridor kampus. Tiba-tiba ada yang
menyenggol bahunya, “Heh cewe cupu!”, bentak seniornya dikampus. Bianca yang
tidak terima di katakan seperti itu balik membentak seniornya. “Nama saya
Bianca!”, katanya sambil pergi meninggalkan kedua senior yang paling banyak
ditakuti dikampusnya.
“Lo
berani bentak gue, cups?”, tantang seniornya itu. Bianca menarik nafas panjang,
dia membalikan badannya, “Saya disini untuk belajar, bukan untuk menjawab
pertanyaan yang tidak pantas saya jawab!”.
“Plak!”
Satu
tamparan mendarat dipipi cuby milik Bianca, dia mengerang kesakitan. Tiba-tiba
datang seorang pria yang tak lain adalah Exel, kapten basket dikampusnya
menuntut ilmu. “Ngapain lo tampar orang?Mau jadi jagoan lo?”, Bentak pria itu
pada kekasihnya sambil memegang erat
lengan Bianca. “Kamu ko belain si cups sih bep?”, katanya manja sambil
mengusap-usap pipi Exel.
“Plak!”
Exel
yang merasa sangat malu dengan sikap kekasihnya itu, langsung mendaratkan satu
tamparan halus dipipi kekasihnya. Dia setengah berteriak, “Agnes kita putus!”,
jelasnya sambil meninggalkan kekasihnya.
~
Beberapa
hari kemudian setelah insiden itu terjadi, Bianca baru menginjakan kakinya lagi
di kampus, dia masih tampak trauma akan perlakuan yang diberikan Agnes,
seniornya. Saat dia membuka lokernya, dia tidak lagi melihat surat berwarna
merah jambu disana. Bianca merasa kehilangan sosok penyemangatnya. “Kenapa
surat itu tidak ada lagi? Apa dia membenciku?”, ucapnya.
Tiba-tiba
terdengar suara yang tidak asing ditelinganya, pria itu berkata, “Maaf, kau
datang terlalu pagi. Aku tidak pernah sekalipun berfikir untuk membencimu,
hanya saja aku hari ini datang terlalu siang.”
Detak
jantung Bianca berdebar begitu kencang seperti hendak akan melompat. Dia
berusaha mengatur nafasnya yang tak karuan, dia membalikan badannya. Begitu
kagetnya dia saat melihat ternyata pria yang saat ini berada dihadapannya
adalah pria yang selama ini dia cintai. Pria itu tersenyum, “Ini surat ke
seratus yang aku buat untukmu.”
Bianca
tersenyum saat mengambil surat itu, dia menatap mata pria itu dalam-dalam. Pria
itu malah balik membalas tatapan Bianca, “Bukalah!”, serunya.
From : Bianca
Aku mencintaimu...
Your
Secret Admirer, Xenzo Cornelius.
Begitulah
sekiranya isi surak ke seratus yang Exel berikan kepada Bianca. “Kamu?”, tanya
Bianca. Exel tersenyum, “Iya Bi, aku yang selama ini memberimu surat merah jambu
itu.”, Bianca tampak kebingungan, dia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Exel
yang masih setia dengan senyumannya, “Sudah lama aku mencintaimu, namun, aku
terhalangi oleh Agnes.”, ucapnya. Exel menggenggam kedua tangan halus milik
Bianca, “Aku takut Agnes akan melukaimu bila dia tahu jika aku sangat
mencintaimu, karna aku tidak akan pernah mau melihat ada air yang mengalir dari
bola matamu.”, tambahnya lagi sambil menciumi punggung tangan Bianca.
“Jadi?”,
tanya Bianca kebingungan. “Jadi selama ini aku menyimpan perasaan begitu dalam
untukmu, dan aku baru berani hari ini untuk mengatakan semuanya. Selama ini aku
selalu memperhatikanmu dan pada saat kau berlari dan menangis aku mengikutimu
dari belakang. Karna aku takut jika ada yang terjadi padamu.”, ucapnya sambil
melepas genggaman tangannya, “Aku ingin kamu menjadi pelengkap di setiap
hari-hariku, apa kau bersedia?”, tambahnya lagi.
Bianca
tersenyum, “Aku bersedia!”, ucapnya. Exel pun langsung mengecup kening wanita
yang kini sudah menjadi kekasihnya, dan memeluk erat wanita itu sambil sesekali
menciumi puncak kepala Bianca.
Selesai~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar