Senin, 12 Januari 2015

Pink Laters



From     : Bianca
Namanu selalu ada disetiap fikiranku
Cahayamu selalu menerangi kegelapan
Keindahanmu yang membuat aku terpanah
Dibalik gelas kaca itu terdapat dua berlian yang tampak selalu bersinar
Air berlian itu tampak seperti butir-butir kristal yang bertaburan
Saat kebahagiaan itu menggoreskan senyuman indah dibibirmu
Membuat aku terpana dengan pesonamu....
                                                                                                                                                                Your Secret Admirer, XC.

                Itulah sekiranya yang selalu Bianca terima setiap harinya, puisi-puisi yang ditulis oleh orang yang sama namun tidak pernah ia ketahui. Wanita itu baru saja menyelesaikan sekolahnya dan melanjutkan ke universitas. Bianca selalu tampak berseri-seri di setiap waktu. Wanita itu selalu terlihat anggun, dengan bola mata bulat berwarna hitam, rambut pirang yang selalu dia biarkan terurai, kulit hitam manis, dan lesung pipit di kedua pipi cuby miliknya, membuat dia terlihat sangat manis.
                Sore ini di universitasnya sedang diadakan pertandingan basket, Bianca bersama sahabatnya tengah terduduk di bawah rimbunnya pohon-pohon dekat lapangan tempat berlatih basket. Tatapan sendunya itu tidak berhenti memperhatikan salah satu pria yang sudah lama ia cintai. Pria itu tampak sangat bahagia menanti pertandingan itu tapi entah pria itu bahagia karna kekasihnya menemaninya bersiap untuk pertandingan basket sore ini. “Bi, lo liatin siapa sih? Si kapten basket ya?”, ucap sahabatnya.
                Bianca hanya bisa terdiam membisu tanpa kata-kata. Dia terlihat sangat bersedih, tanpa gairah. “Bukan, gue ga liatin dia, gue ada kelas”, jawab Bianca sambil pergi meninggalkan sahabatnya. Dia berucap dalam hati, “Ya tuhan, apa harus sesakit ini mencintainya? Berapa lama lagi aku harus menanti sebuah penantian yang tidak pernah usai ini?”, Wanita itu tampak mengeluarkan kristal-kristal indah dari bola matanya, dia menangis.
                Ia berjalan dengan langkah perlahan, meninggalkan sahabatnya sendirian, Bianca yang tidak tahan lagi menahan butiran air yang sudah menjejali matanya itu untuk segera berlomba-lomba keluar dari bola matanya dan ingin segera membasahi wajah cantiknya. Dia berlari dan terus berlari tanpa arah, berusaha mencari tempat yang cukup sunyi, hingga dia terjatuh. Kristal-kristal bening itu tak bisa lagi ia tahan, mereka bergerombol jatuh dari bola mata wanita itu beriringan dengan isak tangisnya. Terlihat bagaimana rapuhnya dia dan bagaimana rasa sakitnya menahan perasaannya pada seorang pria yang sudah lama sekali ia cintai. Dia menjerit dalam hatinya, “Ya tuhan, mengapa harus aku yang menantinya? Mengapa dia tidak pernah melihat besarnya perasaanku padanya? Apa aku tidak pantas untuk pria itu?”.
                Keesokan harinya, saat Bianca membuka lokernya di kampus, tampak surat berwana merah jambu. Namun, tidak tertulis nama pengirimnya.
From     : Bianca
Saat aku menatap kepergianmu, kau tampak berbeda
Mengapa kau membiarkan kristal-kristal itu terjatuh?
Saat itu kau tampak bersedih,
Berapa banyak air mata yang sudah kau jatuhkan?
Bila aku mampu, aku akan menggantinya.
Berapa jauh kau berlari mencari tempat sunyi?
Janganlah kau membuang tenagamu,
Datanglah pada hatiku, disana terdapat tempat yang sangat sunyi untukmu,
Tempat yang sangat indah,
Aku akan menunggumu.
                                                                                                                                Your Secret Admirer, XC.
                Begitulah isi surat merah jambu itu, surat itu adalah surat ke sembilan puluh sembilan yang diberikan oleh pengirim tidak bernama iu. Bianca mengerang prustasi, “Ini surat ke sembilan puluh sembilan!”, ucapnya jengkel.
                Dia berjalan dengan langkah terburu-buru di koridor kampus. Tiba-tiba ada yang menyenggol bahunya, “Heh cewe cupu!”, bentak seniornya dikampus. Bianca yang tidak terima di katakan seperti itu balik membentak seniornya. “Nama saya Bianca!”, katanya sambil pergi meninggalkan kedua senior yang paling banyak ditakuti dikampusnya.
                “Lo berani bentak gue, cups?”, tantang seniornya itu. Bianca menarik nafas panjang, dia membalikan badannya, “Saya disini untuk belajar, bukan untuk menjawab pertanyaan yang tidak pantas saya jawab!”.
                “Plak!”
                Satu tamparan mendarat dipipi cuby milik Bianca, dia mengerang kesakitan. Tiba-tiba datang seorang pria yang tak lain adalah Exel, kapten basket dikampusnya menuntut ilmu. “Ngapain lo tampar orang?Mau jadi jagoan lo?”, Bentak pria itu pada kekasihnya  sambil memegang erat lengan Bianca. “Kamu ko belain si cups sih bep?”, katanya manja sambil mengusap-usap pipi Exel.
                “Plak!”
                Exel yang merasa sangat malu dengan sikap kekasihnya itu, langsung mendaratkan satu tamparan halus dipipi kekasihnya. Dia setengah berteriak, “Agnes kita putus!”, jelasnya sambil meninggalkan kekasihnya.
~
                Beberapa hari kemudian setelah insiden itu terjadi, Bianca baru menginjakan kakinya lagi di kampus, dia masih tampak trauma akan perlakuan yang diberikan Agnes, seniornya. Saat dia membuka lokernya, dia tidak lagi melihat surat berwarna merah jambu disana. Bianca merasa kehilangan sosok penyemangatnya. “Kenapa surat itu tidak ada lagi? Apa dia membenciku?”, ucapnya.
                Tiba-tiba terdengar suara yang tidak asing ditelinganya, pria itu berkata, “Maaf, kau datang terlalu pagi. Aku tidak pernah sekalipun berfikir untuk membencimu, hanya saja aku hari ini datang terlalu siang.”
                Detak jantung Bianca berdebar begitu kencang seperti hendak akan melompat. Dia berusaha mengatur nafasnya yang tak karuan, dia membalikan badannya. Begitu kagetnya dia saat melihat ternyata pria yang saat ini berada dihadapannya adalah pria yang selama ini dia cintai. Pria itu tersenyum, “Ini surat ke seratus yang aku buat untukmu.”
                Bianca tersenyum saat mengambil surat itu, dia menatap mata pria itu dalam-dalam. Pria itu malah balik membalas tatapan Bianca, “Bukalah!”, serunya.
From     : Bianca
Aku mencintaimu...
                                Your Secret Admirer, Xenzo Cornelius.
                Begitulah sekiranya isi surak ke seratus yang Exel berikan kepada Bianca. “Kamu?”, tanya Bianca. Exel tersenyum, “Iya Bi, aku yang selama ini memberimu surat merah jambu itu.”, Bianca tampak kebingungan, dia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Exel yang masih setia dengan senyumannya, “Sudah lama aku mencintaimu, namun, aku terhalangi oleh Agnes.”, ucapnya. Exel menggenggam kedua tangan halus milik Bianca, “Aku takut Agnes akan melukaimu bila dia tahu jika aku sangat mencintaimu, karna aku tidak akan pernah mau melihat ada air yang mengalir dari bola matamu.”, tambahnya lagi sambil menciumi punggung tangan Bianca.
                “Jadi?”, tanya Bianca kebingungan. “Jadi selama ini aku menyimpan perasaan begitu dalam untukmu, dan aku baru berani hari ini untuk mengatakan semuanya. Selama ini aku selalu memperhatikanmu dan pada saat kau berlari dan menangis aku mengikutimu dari belakang. Karna aku takut jika ada yang terjadi padamu.”, ucapnya sambil melepas genggaman tangannya, “Aku ingin kamu menjadi pelengkap di setiap hari-hariku, apa kau bersedia?”, tambahnya lagi.
                Bianca tersenyum, “Aku bersedia!”, ucapnya. Exel pun langsung mengecup kening wanita yang kini sudah menjadi kekasihnya, dan memeluk erat wanita itu sambil sesekali menciumi puncak kepala Bianca.
Selesai~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar